lapangan luas fatamorgana butakan nurani hati
mencari kuat dari embun pagi
untuk ENGKAU wahai empunya hatiku
masihkah engkau dengan hangat memeluk jasad ini?
ketika jiwa ini jadi seorang hedonis
mencarilah gelas-gelas kaca tiap hari
berisi cairan-cairan untuk me-mabuk
angin memeluk mesra
tapi juga menusuk dada
beginilah aku karena kehilangan
mencari tempat peraduan
berujung padang duri tak beraturan
segala kunang-kunang harapan
membias karena ratapan
bilamana waktu itu tiba
seonggok daging ini siap hancur dilindas ludas
bertutur jujur juga percuma
karena sejak awal aku hanya pengecut yang bertopeng
untuk apa bajingan ini hidup ?
duduk di dasar bumi
mencoba mengingat kilasan masa lalu
mengapa bisa begini ?
semenjak awal aku sudah melupakan konsepsi dasar
dari penyubur segala nyawa yang hidup di bumi
zat kekal yang bersemayam di balik belulang
sumber energi terhebat yang pernah ada
"cinta yang murni"
0 Comment:
Poskan Komentar