Sabtu, 11 September 2010

Nevermind

“lebih baik padam daripada pudar” Kurt Donald Cobain

Aku terbangun dari mimpi, ya aku bermimpi , mimpi – mimpi realita, mimpi – mimpi yang limpung ini. Mungkin bila disebut bermimpi juga tidak, sebab aku tahu aku sudah tidak ada nyawa, nyawaku sudah habis, aku ingin menulis cerita ini dengan bahasa yang kompleks, agar tulisan ini lebih tepat disebut dengan “cerita yang berat” atau sulit dicerna, tapi apa dayaku ? aku hanyalah musisi! Aku memang puitis , tapi keterbatasan ruang lingkup antara dunia nyata dengan duniaku sekarang tidak bisa membuatku menulis cerita sebagaimana aku menulis lirik! Aku ingin hidup kembali apabila aku tahu tentang realita tentang konspirasi pembunuhan ini! Konspirasi yang aku juga seorang pelakunya. Aku yang membunuh diriku sendiri. Aku juga pelaku konspirasi ini. Semua tentang aku . diriku . juga pistol shotgun dan bubuk-bubuk mabuk ini.

Aberdeen 20 Februari 1967.

Hari ini bayi itu telah lahir, bayi yang suatu saat akan membuat revolusi terhadap dunia musik, memberikan warna baru dalam perindustrian Hollywood. Sebelumnya perkenalkan diriku, namaku Gabriel, seorang malaikat ? bukan. Aku bukan malaikat. Hanya sekumpulan Ruh yang menerima titah sang Maha untuk mencatat riwayat hidup seseorang yang nantinya akan membawa pengaruh besar di bumi , tentunya dalam segala aspek. Baik itu musik , politik , ekonomi, dan lain –lain. Mengenai nama Gabriel. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku mendapat nama itu. Apa aku harus disamakan dengan malaikat pembawa pesan ? tidak, aku tidak sederajat dengannya, sepertinya aku sudah cukup memperkenalkan diriku, sebagaimana sebuah cerita dimulai, aku akan membuka cerita ini dari sudut pandangku, sudut pandang seonggok Ruh yang diberi akal tinggi.

Aku masih mengingat teriakan itu, teriakan bayi yang baru lahir. Bagaimana dia menggeliat-geliat di tempat tidurnya, wajahnya putih, karena ia sudah pulang dari rumah sakit. Warna matanya biru, biru sebiru-birunya, warna biru yang mempunyai emosi aneh, aku tidak mengerti arti warna biru itu. Matanya kuat, tapi disatu sisi juga sayu. Nama anak itu adalah Kurt.. Kurt Donald Cobain.

Kurt kecil sangat lucu, bahkan bila dibanding dengan masa besarnya , jauh berbeda, berbeda dari sisi psikologis tentunya, wajahnya tidak berubah, ketika dewasa ketampanannya semakin terlihat, dagunya terbelah , rahangnya kuat, hanya saja tubuhnya kurus. Kurt kecil suka bermain, ia bermain apa saja, drum – drum kecil yang dibelikan ibunya, dipukulnya keras-keras.ia termasuk anak yang hiperaktif, lain dengan adiknya yang lebih pasif.





“Aku benci ayah, Aku benci ibu,Ayah benci ibu, Ibu benci ayah” Kurt Donald Cobain


Perceraian. Satu kata yang merobek-robek hati Kurt Kecil , satu kata yang akan merubah pola pikir dan hidupnya kelak. Ibu Kurt dan ayah Kurt bercerai, aku tahu itu , aku sudah tahu . aku turut bersedih atas itu. Kelak aku ingin menangis kepada Tuhan ,mengapa ia tega memberikan aku beban tugas seperti ini ? aku muak dengan ini, melihat bagaimana seorang yang mempunyai kemampuan hebat meninggal mengenas.

Imajinasi tinggi Kurt membuat ia mendapatkan teman khayalnya. Dan itulah aku . diberi nama olehnya “Boddah” padahal namaku Gabriel, terkadang lucu juga melihat ini . dengan seenaknya ia mengganti namaku. Hahaha! Kurt memang mempunyai selera humor yang tinggi. Jauh melebihi selera humorku, padahal aku juga di program mempunyai mosi humor.

Sekarang aku disebut ia Boddah. Ia masih kecil. Tapi hebat dalam bercanda denganku, aku bersyukur Tuhan mengijinkan aku berbicara dengan langsung oleh orang yang kucatat jalan hidupnya. Mungkin karena rasa muakku jadi Tuhan memberikan aku anugrah ini. Aku senang ,sangat senang.

Hari demi hari aku lewati bersama kurt , memerankan peran sebagai boddah. Tidak hanya itu . kurt juga suka menceritakan tentangku kepada keluarganya. Aku senang sekali saat itu. Kurt semakin menjadi tentang Kehiperaktifannya. Ia memukul merusak segala yang ada di rumah ibunya. Ia tinggal di rumah ibunya sekarang.

Akhirnya saat itu tiba. Kurt semakin menjadi tentang eksistensi ku di bumi ini. Kurt dibawa oleh ibunya ke dokter psikolog. Ia diberi obat aneh untuk melupakanku.. ia meminum obat itu dengan ragu. Meskipun pada akhirnya ia minum juga. Aku masih mengingat bagaimana rupa nya waktu itu. Ia takut kehilanganku. Aku senang sekaligus sedih. Meninggalkan sahabat lama. Mencair menjadi leburan fatamorgana. Dan bagian sedihnya adalah ketika Kurt melupakan aku. Bukankah lebih baik ditinggalkan orang yang dicintai daripada dilupakan ?

Kurt naik ke mobil menatap aku yang di menempel di jendela mobilnya. Ia tampak sedih melihat aku memudar, tapi juga tidak menangis. Aku hanya tersenyum manis kepadanya sembari berkata “bukankah suatu pertemuan akan lebih berarti bila ada perpisahan kurt ?”
Ia hanya mengangguk sembari tersenyum. Aku tahu ia tidak akan menangis, sebab ia anak yang kuat.

Sekarang peranku menjadi si pencatat riwayat hidup . Gabriel yang mempunyai akal dan logika manusia. Juga emosinya. Manusia.
Kurt menjadi remaja yang tangguh dalam bidang seni dan olahraga. Ia dapat melukis figur manusia dengan mudah. Ia sangat jenius dalam bidang itu. Tapi tidak dalam bidang yang lain. Ia termasuk anak yang bodoh dalam ilmu eksak. Mungkin ia mempunyai darah seni yang kental. Sehingga dapat melukis dengan begitu indahnya.


“The sun is gone, but I have a light” Kurt Donald Cobain


Kurt marah,ia muak,ia ingin membanting barang,ia ingin merobek kertas,ia menacri pelarian… melihat ibunya mempunyai pacar baru, dan Kurt juga semakin melupakan aku. Pacar ibunya adalah manusia setengah perempuan. Apakah seorang lelaki sejati tega memukul perempuan ? dia itu bukan manusia! Dia itu iblis!
Aku marah karena efek yang ditimbulkan untuk Kurt sangat besar. Aku tak peduli berapapun pukulan yang diterima ibunya. Hanya saja efek psikologis yang ditimbulkan kepada Kurt itulah yang membuatku geram.

Kurt Remaja Adalah anak yang tampan , tapi kurus, aku masih mengingat ia memberikan lukisan yang indah, musisi yang berdiri diatas lautan pasir sembari memegang gitar yang ampli nya adalah batang pohon. Aku ingin memiliki lukisan itu, tapi lukisan itu diberikan ke teman SMAnya . karena teman SMA nya memuji gambarnya.

Ayah Kurt sendiri tinggal bersama keluarga barunya, mempunyai istri dan anak yang baru, mungkin tersirat sedikit keinginan untuk tinggal bersama ayahnya , tapi ia lebih segan di bagian itu.

Kurt remaja mulai mengenal rokok dan minuman keras, itu semua hanya bentuk pembuktian dirinya . meskipun aku tahu Kurt adalah seorang pemalu dan tertutup. Aksi –aksi anarkis pun dilakukan. Ia mencoret-coret tembok dengan tulisan yang betul-betul membuat semua kalangan marah. Aku jadi kesal juga sejujurnya. Tapi biarlah . apa dayaku ? aku hanya serpihan Ruh. Ingat itu.

Mungkin memang inilah takdirnya, terobsesi dengan kematian dan bunuh diri. Itu semua ditunjukan ketika ia memberikan film pendek ciptaannya kepada teman nya. Yang menceritakan tentang bunuh diri. Lalu sambil tertawa ia berkata “aku akan menjadi rockstar, lalu bunuh diri.. terbakar dalam gegap gempita popularitas!!” aku sedih.

Musik mungkin tidak bisa lepas dari jalan hidupnya, aku masih mengingat ia belajar gitar dengan gurunya bernama Buzz.ia dapat memainkan kunci-kunci yang rumit, lagu stairway to heaven – led zeppelin pun dilahapnya dengan mudah. Ia sangat jenius.

Kurt yang semakin marah atas kelakuan ibunya yang memutuskan untuk hidup secara nomaden. Bermula dari hidup di rumah sakit ketika malam hari, untuk menumpang kehangatan , karena cuaca di Aberdeen sangat dingin. Sampai ketika ia tinggal di kolong jembatan,. Aku tahu itu. Aku menangis dalam hati. Tapi tersenyum apabila Kurt Melirikku, padahal aku tahu , ia tidak lihat aku.

ia tinggal bersama temannya bernama Krist Novoselic. Yang kelak akan menjadi Bassistnya. Mereka tinggal bertiga . Krist bersama pacarnya. Kurt hanya sendiri. Ia sendiri dan kesepian. Mungkin kehidupan yang keras akan menjadi bekalnya dalam bermusik nanti, aku tahu itu. Kurt seorang jenius. Dalam bermusik . warnanya yang pertama adalah Punk, dengan atas nama ideologi anti kemapanan dan juga kebebasan.

“I Hate Myself and I want to Die” Kurt Donald Cobain

Grunge, satu kata , satu genre musik , satu hal yang akan merubah hidup Kurt. Kurt Sekarang sudah dewasa, menciptakan Nirvana adalah tanda kesuksesannya. Dengan Krist sebagai bassist dan Dave Sebagai Drummer.

Single Smells Like teen spiritnya menggeser segala genre musik yang sedang popular saat itu , menjadi warna baru dan revolusi musik yang di dominasi oleh musik metal. Dan juga ia mencipatakan suatu trend baru, jeans robek-robek, kaos oblong dan kemeja flannel. Dalam sekejap Kurt menjadi pahlawan anak muda saat itu.

Lirik-lirik yang ditulisnya menunjukan sisi depresif nya. Meskipun orang-orang tidak menyadari itu. Aku merasakan dengan kuat hal itu. Ia stress karena terpaan media massa dan juga ketidakmampuan Kurt menerima kepopularitasannya secara frontal dan mendadak.

Heroin, bubuk- bubuk mabuk itulah yang menjadi pelarian kurt atas depresi yang menimpanya. Aku lupa menceritakan bahwa ia sudah menikah, aku tidak mampu menulis cerita ini secara jelas,karena hatiku sudah terlalu sakit apabila melihat Kurt. bahkan ketika sudah punya anakpun ia tidak menghentikan kebiasaan itu. Aku sudah muak dengan semua ini Tuhan, apa aku harus melihat ini secara terus –menerus ?ketika temanku menjadi bajingan tolol yang kerjanya hanya mencuci otak menghapus logis dan menyakiti diri .

Kurt masuk panti rehab. Bahkan itupun tidak cukup untuk menahan nafsu mabuk nya itu. Kurt Ingin lupa. Kurt ingin menangis. Kurt itu kesepian. Kurt mencoba kabur dari panti rehab itu. Ia pergi ke suatu rumah nya yang dekat situ. Aku tak tahu jelasnya dimana.

Ia merebus heroinnya. Mengambil pena . dan menyiapkan shotgunnya. Aku tahu ia sudah mengsimulasikan ini sejak dulu. Rencana bunuh diri nya. Tekanan hidup yang dialaminya. Aku tahu itu semua. Sebab itu aku menangis disini sekarang.

Kurt meninggal setelah menghirup heroin dalam jumlah besar lalu menembakan shotgun itu kemulutnya.tidak lupa dengan surat wasiat terakhirnya yang ditujukan untukku. “Boddah”. Aku masih ingat otak dan hidungnya serta mulutnya tumpah ruah ke bawah lantai. Ia meninggal mengenas. Dan lagi –lagi aku menjadi saksi atas semua ini..

“Boddah ?” Orang Lusuh itu memanggilku, tidak lain adalah Kurt.
“ kamu masih ingat aku kurt ?” balasku
“ Tentu saja, jadi aku harus kemana sekarang ?”

“ada yang ingin kau katakan kepadaku sebelum pergi kesana ?”
“ya..”




Ia menulis kalimat diatas kertas yang isinya :

“Aku terbangun dari mimpi, ya aku bermimpi , mimpi – mimpi realita, mimpi – mimpi yang limpung ini. Mungkin bila disebut bermimpi juga tidak, sebab aku tahu aku sudah tidak ada nyawa, nyawaku sudah habis, aku ingin menulis cerita ini dengan bahasa yang kompleks, agar tulisan ini lebih tepat disebut dengan “cerita yang berat” atau sulit dicerna, tapi apa dayaku ? aku hanyalah musisi! Aku memang puitis , tapi keterbatasan ruang lingkup antara dunia nyata dengan duniaku sekarang tidak bisa membuatku menulis cerita sebagaimana aku menulis lirik! Aku ingin hidup kembali apabila aku tahu tentang realita tentang konspirasi pembunuhan ini! Konspirasi yang aku juga seorang pelakunya. Aku yang membunuh diriku sendiri. Aku juga pelaku konspirasi ini. Semua tentang aku . diriku . juga pistol shotgun dan bubuk-bubuk mabuk ini”

“dan aku tersadar . boddah adalah refleksi dari diriku sendiri, boddah adalah sisi ku yang lain yang memandang sesuatu dari sudut positif. Gabriel adalah Boddah. Boddah adalah aku. Segala-segala yang kutulis diatas tidak lain adalah aku sendiri, alam bawah sadarku, aku sekarang menyadari bahwa Boddah adalah aku. Sungguh ironis, seandainya aku menyadari hal itu mungkin aku tidak terbaring tak bernyawa disini.”

“aku sendiri yang menulis riwayat hidupku, akulah si penulis yang menulis cerita ini.. ini semua hanya sesuatu yang bercerita tentang perlawan kata antonim-antonim kehidupan”

“segala segala yang kutulis diatas adalah aku sendiri, Sekumpulan Ruh yang diberikan “Video” kehidupan.”

0 Comment:

Poskan Komentar